Kondisi Geografis Desa Klandaran, Ngombol, Purworejo

Desa Klandaran merupakan salah satu desa dari 57 Desa yang ada di Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Desa Klandaran memiliki Kode Pos 54172 dan Kode Wilayah Administrasi : 33.06.02.2031. Desa Klandaran menjadi salah satu Desa yang cukup terkenal di Ngombol karena letaknya yang berada di samping Jalan Utama Purwodadi – Grabag. Sehingga orang yang melewati jalan tersebut dapat langsung melihat gapura masuk Desa Klandaran tersebut.

 

Desa Klandaran sudah terbentuk cukup lama sekitar tahun 1945 dan dengan berbagai sejarahnya sudah terjadi beberapa kali pergantian Kepemimpinan atau Kepala Desa yaitu sebagai berikut :

Tahun ( 1945 – 1974 ) Ronontono dan Tuwarno sebagai Sekretaris Desa dan diganti Sunarto

Tahun ( 1974 – 1990 ) Haryoto, Sp dan Sunarto sebagai Sekretaris Desa

Tahun ( 1990 – 1998 ) Parmono dan Tugimin sebagai Sekretaris Desa

Tahun ( 1998 – 2007 ) Sumino  dan Tugimin sebagai Sekretaris Desa

Tahun ( 2007 – 2019 ) Suharno dan Tugimin sebagai Sekretaris Desa

Tahun ( 2019 – sekarang ) Gatot Sanyoto dan Heru Saptono sebagai Sekretaris Desa

Desa Klandaran tersebut bisa dibilang cukup strategis, yaitu diapit oleh desa lain dan juga persawahan yang juga menjadi faktor pancaharian warga desa klandaran. Batas-batas Desa Klandaran adalah sebagai berikut :

Batas Timur : Desa Brian

Batas Selatan : Sawah

Batas Barat : Desa Susuk

Batas Utara : Desa Jombang

Berikut merupakan letak Desa Klandaran : Letak Desa Klandaran 

 

Sumber :

Website Kecamatan Ngombol, Purworejo

Koordinat Desa Klandaran, Google Maps
Share:

Sejarah Desa Klandaran, Ngombol, Purworejo


Pada zaman dahulu, menurut cerita turun temurun sampai menjadi legenda, khususnya bagi masyarakat Desa Klandaran. Ada seseorang dengan nama yang tidak dikenal secara pasti, ia merupakan seorang yang melarikan diri dari kerajaan Majapahit dan menyamar menjadi buruh atau suruhan orang, dan dikenal dengan nama Ki Glidik. Ki Glidik memiliki kesaktian sehingga mudah menjadi terkenal dan menjadi pimpinan masyarakat setempat. Singkat cerita pada suatu hari terdapat sebuah acara pembagian wilayah kekuasaan di antara pimpinan masyarakat setempat, dan pada waktu pembagian wilayah kekuasaan Ki Glidik sedang bepergian untuk menyalurkan kesenangannya beradu burung gemak dan ayam jago. Begitu pulang, Ki Glidik belum tahu kalau ada pembagian wilayah kekuasaan, namun pembagian wilayah belum selesai dan Ki Glidik belum mendapatkan wilayah sedikitpun. Ki Glidik saat itu sedang kelelahan dan akhirnya tertidur di bawah pohon ndaru. Teman-temannya meras kasihan dan membangunkan Ki Glidik lalu ditawari untuk mendapatkan wilayah dengan cara membakar hutan, dengan kesepakatan luas wilayah kekuasaan Ki Glidik adalah seluas kumbul geni (seluas hasil pembakaran wilayah tersebut).

Ki Glidik mulai membakar hutan tersebut dimulai dari pohon ndaru tempat Ki Glidiik tidur. Api melalap hutan tersebut dari arah barat (kulon) ke timur. Setelah api padam, maka luas hasil pembakaran itu menjadi luas wilayah kekuasaan Ki Glidik. Kemudian Ki Glidik berkata “Kelak wilayah ini akan menjadi wilayah yang makmur, dan akan kuberi nama KULONDARUAN UMBUL GENI”. Karena titik awal pembakaran yaitu di sebelah barat (kulon) tepat pohon ndaru.

Kemudian pada suatu hari Ki Glidik meninggal dunia lalu dimakamkan tepat di bekas pohon ndaru. Semakin hari nama wilayah KULONDARUAN UMBUL GENI berubah menjadi KLANDARAN. Hingga saat ini makam Ki Glidik diabadikan sebagai pepunden di Desa Klandaran, dan Ki Glidik lebih dikenal dengan nama Ki Bagus Glidik atau Mbah Kulon Ndoro Umbul Geni.

Pada masa penjajahan Belanda, saat Belanda berkuasa di Indonesia, Desa Klandaran dijadikan satu dengan Desa Susuk dan Desa Mendiro, dengan maksud untuk mempermudah Belanda dalam proses pengawasan, gabungan ketiga desa tersebut lalu diberi nama MANGUNREJO. Namun setelah Negara Republik Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 Desa Klandaran mulai berdiri sendiri dengan Pemerintahan yang berdaulat sampai saat ini.


Share:

Cari di Blog