Pada zaman dahulu, menurut cerita turun temurun sampai menjadi legenda,
khususnya bagi masyarakat Desa Klandaran. Ada seseorang dengan nama yang tidak
dikenal secara pasti, ia merupakan seorang yang melarikan diri dari kerajaan
Majapahit dan menyamar menjadi buruh atau suruhan orang, dan dikenal dengan
nama Ki Glidik. Ki Glidik memiliki kesaktian sehingga mudah menjadi terkenal
dan menjadi pimpinan masyarakat setempat. Singkat cerita pada suatu hari terdapat
sebuah acara pembagian wilayah kekuasaan di antara pimpinan masyarakat
setempat, dan pada waktu pembagian wilayah kekuasaan Ki Glidik sedang bepergian
untuk menyalurkan kesenangannya beradu burung gemak dan ayam jago. Begitu
pulang, Ki Glidik belum tahu kalau ada pembagian wilayah kekuasaan, namun
pembagian wilayah belum selesai dan Ki Glidik belum mendapatkan wilayah
sedikitpun. Ki Glidik saat itu sedang kelelahan dan akhirnya tertidur di bawah
pohon ndaru. Teman-temannya meras kasihan dan membangunkan Ki Glidik lalu
ditawari untuk mendapatkan wilayah dengan cara membakar hutan, dengan
kesepakatan luas wilayah kekuasaan Ki Glidik adalah seluas kumbul geni (seluas
hasil pembakaran wilayah tersebut).
Ki
Glidik mulai membakar hutan tersebut dimulai dari pohon ndaru tempat Ki Glidiik
tidur. Api melalap hutan tersebut dari arah barat (kulon) ke timur. Setelah api
padam, maka luas hasil pembakaran itu menjadi luas wilayah kekuasaan Ki Glidik.
Kemudian Ki Glidik berkata “Kelak wilayah ini akan menjadi wilayah yang makmur,
dan akan kuberi nama KULONDARUAN UMBUL GENI”. Karena titik awal pembakaran
yaitu di sebelah barat (kulon) tepat pohon ndaru.
Kemudian
pada suatu hari Ki Glidik meninggal dunia lalu dimakamkan tepat di bekas pohon
ndaru. Semakin hari nama wilayah KULONDARUAN UMBUL GENI berubah menjadi
KLANDARAN. Hingga saat ini makam Ki Glidik diabadikan sebagai pepunden di Desa
Klandaran, dan Ki Glidik lebih dikenal dengan nama Ki Bagus Glidik atau Mbah
Kulon Ndoro Umbul Geni.
Pada
masa penjajahan Belanda, saat Belanda berkuasa di Indonesia, Desa Klandaran
dijadikan satu dengan Desa Susuk dan Desa Mendiro, dengan maksud untuk
mempermudah Belanda dalam proses pengawasan, gabungan ketiga desa tersebut lalu
diberi nama MANGUNREJO. Namun setelah Negara Republik Indonesia merdeka pada
tanggal 17 Agustus 1945 Desa Klandaran mulai berdiri sendiri dengan
Pemerintahan yang berdaulat sampai saat ini.
Sumber : Website
Kecamatan Ngombol, Purworejo









Tidak ada komentar:
Posting Komentar